19.11.12

Eksperimen #depokgantinama

Tommy (Akberdepok) saat persiapan booth #depokgantinama

Sabtu, 17 November 2012, DepokDigital berpartisipasi dalam kegiatan kolaborasi beberapa komunitas di Depok untuk mengisi acara Kompasianival 2012. 

Tak mau sekadar buka booth kami nekat menggelar sebuah kampanye berlabel #depokgantinama. 

Premis kampanyenya begini: "apa yang terjadi jika Depok berganti nama?" 

Dari situ, kami mencoba menarik rasa ingin tahu pengunjung dan mengubahnya menjadi keterlibatan dengan seakan-akan membuka sebuah ruang bagi pengunjung untuk mengusulkan nama baru apa yang bisa digunakan untuk menggantikan Depok. 

Jelas saja, dalam kenyataannya, Depok memang tidak (atau belum?) bergantinama. Isu ini sengaja diangkat sebagai bentuk provokasi. Terbukti, setidaknya isu ini berhasil memancing rasa penasaran pengunjung. 

Fathan (DepokCreative) melayani pengunjung yang mengusulkan nama untuk Depok
Mereka yang penasaran pun akan mendapatkan penjelasan. Bahwa arti #depokgantinama bukan sungguh mengganti nama Depok, tetapi mencoba menonjolkan hal lain soal Depok yang ada di benak pengunjung. 

Tujuan dari kampanye ini, dan gerakan besar #komunitasdepok, adalah untuk mengangkat sebuah fakta bahwa Depok merupakan kota yang penduduknya bisa menghasilkan karya-karya kreatif dan bermakna. 

Harapannya, Depok akan disebutkan dalam satu kalimat yang sama dengan Bandung atau Jogja. Tentunya dalam kalimat positif mengenai kreativitas (terutama kreativitas digital). 
  
Harapannya, hal utama yang akan diingat orang soal Depok akan jauh dari hal-hal negatif, tetapi fokus ke hal-hal positif seperti kreativitas dan karya warganya. 

Semangat!

17.6.12

Belajar dari Event Startup Asia

Jalan untuk meningkatkan kesadaran digital di Kota Depok, mau tidak mau, akan mencakup menggelar sebuah event.

Sebagai rintisan, DepokDigital berusaha menggelar DepokConnection (#depcon). Meskipun, harus diakui, beberapa bulan ini event tersebut vakuum.

Namun jika nantinya bisa berjalan rutin, DepCon pun bisa berevolusi jadi event yang lebih besar, dengan target pengunjung yang lebih besar juga.

Kebetulan, pada 8 Juni 2012 lalu, beberapa pendiri DepokDigital sempat menghadiri Event yang layak jadi rujukan Event itu adalah Startup Asia Jakarta.

Lahandi, saya (Wicak) dan Gege sempat nongkrong-nongkrong di gelaran itu. Lain lagi Putra yang bersama Firman (depokmobi / teknojurnal) menggelar Hackathon di acara itu.

Nanti coba kita tanyakan lebih dalam ke Putra bagaimana pengalamannya. Namun untuk tulisan kali ini, berikut adalah beberapa hal yang bisa jadi pelajaran dari event tersebut:

1. Do The Work

Willis Wee, pendiri TechInAsia selaku penyelenggara Startup Asia, melakukan kerja keras dalam mewujudkan acara itu.

Mulai dari mengunjungi media, rekanan dan komunitas yang diharapkan ikut terlibat dengan event itu. Hasilnya, boleh dibilang cukup berhasil dan nyaris semua stakeholder hadir.

2. The Devil's In The Detail

Satu hal lagi yang  menarik dari event tersebut adalah perhatian pada detail yang cukup baik. Mulai dari Usher Upper Room yang menunggui lift di lantai dasar Annex Building sampai atmosfer yang dibangun dengan Banner yang bergelantungan melimpah dari atap, tembok 'foto' dan logo Startup Asia yang tampil dalam bentuk ..eh.. patung (?).

Intinya, kegiatan itu cukup berhasil membawa pengunjungnya "masuk" ke sebuah dunia yang berbeda. Cukup menarik mengingat ruang yang digunakan tidak sebesar, katakanlah JCC atau Jakarta Fair.

3. Talent Choices

Ya, penyelenggara menghadirkan gadis-gadis sexy sebagai penyambut dan pemanis. Namun untuk hal yang penting, mereka memilih menomorduakan faktor "penampilan".

Untuk MC, misalnya, daripada memilih model cantik atau ganteng, Startup Asia Jakarta menghadirkan Richard Robinson. Seorang, pria paruh baya.

Tapi tak bisa dipungkiri Robinson mampu "berkuasa" di panggung. Apalagi dia juga punya latar wirausaha sehingga ucapannya sungguh nyambung dengan peserta.

Kemudian untuk sesi diskusi, beberapa kali yang jadi pemandu adalah Andi S Boediman (Ideosource).

Coffee Chat sendiri selalu menampilkan blogger dari TechInAsia, termasuk tentunya Willis Wee selaku pendiri.

Kesimpulan

Pada saat DepokDigital membuat event yang besar kelak, saya sungguh berharap kita bisa menunjukkan level yang setara dengan Startup Asia Jakarta. Dan bahkan bisa lebih baik lagi.

Event itu harus bisa profesional, elegan, rapih dan (ini yang paling penting) jauh dari kesan protokoler. Jadi, tentunya, mengabaikan pejabat pemerintah adalah hal yang penting agar kegiatan ini tidak berbau Pemda.

Saya sih yakin, Depok bisa.

1.2.12

Sinergi Empat Unsur

Ada empat unsur yang harus bersinergi jika mau mewujudkan kekuatan besar dari sebuah Kota. Keempatnya adalah: 
  1. Masyarakat 
  2. Akademi
  3. Pemerintah
  4. Bisnis
Keempat unsur itu tidak harus di bawah kendali yang sama. Ini toh bukan baris-berbaris. 

Pemikirannya seperti ini: Jika keempatnya memiliki kesamaan pemahaman akan sebuah visi di masa depan, sudah barang tentu terwujudnya mimpi besar dari sebuah kota bisa lebih mudah. 

Mimpi yang dimaksud apa lagi kalau bukan 'kota cyber'. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kota yang bisa mendapatkan manfaat dari kemajuan teknologi dan perkembangan dunia digital.

Malam terakhir di bulan Januari 2012 dimanfaatkan sekelompok orang untuk berdiskusi di Buku Kafe. Pertemuan ini diorganisir oleh teman-teman Depok Klik.

Nah yang istimewa, hadir dalam acara itu adalah Herry Pansila, Kepala Diskominfo Depok. Istimewa karena kami sudah lama ingin mendengar apa sih Depok Cyber City yang beberapa tahun ini terlontar di begitu banyak spanduk di Depok. 

Di satu sisi, kehadiran "orang Pemkot" patut disukuri karena setidaknya membuka jalan dialog agar keempat unsur yang disebutkan di awal tadi bisa harmonis. 

Di sisi lain, mereka yang datang jadi cukup "terbuka" matanya soal kesiapan (atau ketidaksiapan?) pemerintah akan jargon Cyber City tadi. 

Untungnya, sudah sejak awal menjadi komitmen Depok Digital untuk tetap berjalan dengan mimpi ini, apapun yang diprogramkan (atau tidak diprogramkan) oleh Pemkot. 

Ternyata memang masih panjang dan berliku jalan untuk mewujudkannya. Semoga saja pertemuan malam itu jadi awal untuk membuka serta melancarkan jalur komunikasi dan silaturahmi keempat unsur.






Footnote: Komen singkat tentang peran pemerintah: kalau tidak bisa memudahkan, paling tidak jangan sampai menyulitkan.  

21.11.11

Depok Connection : Membaca Potensi Depok Menjadi Kota Digital




Pada 24 November 2011 nanti Depok Digital mengagendakan acara Depok Connection. Acara yang akan diselenggarakan di Buku Kafe dari jam 18.00-21.30 ini berencana membahas tentang potensi Kota Depok menjadi kota digital. Sebagai narasumber ada Dhanang Perdhana (CEO Perdhanahost) dan Al Maujudy yang biasa dikenal dengan Cak Uding (Managing Director Better-B).


Spirit yang dibawa pada meet up perdana ini adalah memperkuat jaringan lokal Depok. Sehingga undangan, tema dan pembicara adalah orang-orang atau komunitas dari Depok. Pihak Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Depok pun diagendakan memberikan sambutan pada acara ini.


Di meet up pertama Depok Digital ini ada sesi Show Up, sesi dimana startup atau komunitas mendapat waktu sepuluh menit untuk mempresentasikan tentang aktivitasnya masing-masing. StartUp Kampus, anakUI.com, SiKodok dan JajananDepok.com akan tampil di sesi ini.


Dengan diselenggarakannya Depok Connection ini diharapkan bisa terjalin sinergi yang harmonis antara akademisi, bisnis, pemerintah dan masyarakat dalam hal teknologi informasi komunikasi Kota Depok. Komunikasi kondusif antar elemen ini adalah hal terpenting jika Depok ingin mempersiapkan diri menjadi kota yang berbasiskan digital.


Bagi yang tertarik datang ke acara ini bisa menuju ke depcon.depokdigital.net untuk booking dan informasi lengkap.

31.10.11

Gedung Cyber di Depok?

Mungkin saya termasuk seorang yang pesimis kalau sudah soal peran pemerintah dalam memajukan dan memintarkan rakyatnya. Sikap ini, jujur saja, saya idap karena ketularan Kang Onno Purbo yang dalam beberapa kesempatan ngobrol (terutama di awal-awal 2000 dulu) sering bilang: gak pake bantuan pemerentah, gak pake IMF. 

Maka ketika ada kabar di DepokNews.com bahwa pemerintah Depok hendak membuat Gedung Cyber City, reaksi pertama saya adalah nyinyir. (Baca di: http://www.depoknews.com/depok-akan-bangun-gedung-cyber-city.html)


Tapi, ya sudah, mari kita sikapi ini dengan baik. Karena, biar bagaimanapun, ada hal-hal tertentu yang bisa dilakukan pemerintah dengan segala sumber daya dan kekuasaan yang mereka miliki. Semoga saja, Gedung Cyber City ini bisa jadi sesuatu yang mendukung iklim ekonomi digital di Depok. 


Untungnya, konon gedung itu akan dibuat untuk komunitas. Jika benar dan akhirnya terwujud, tinggal masalah kita (warga depok) untuk membuat gedung itu jadi bermanfaat. Gedungnya boleh didanai pemerintah, tapi untuk mengisi dan menjadikannya berkelanjutan (panjang napas) harus warga depok sendiri yang bergerak. 


Semoga saja DepokDigital bisa ikut berperan dalam menggerakkan Warga Depok agar siap menjadi pemain aktif di era digital ini. 


Salam! 


Wicak Hidayat

27.10.11

Kota Digital, Mimpi yang Terlalu Muluk?

Apakah keinginan untuk menjadikan Depok sebuah 'Kota Digital' adalah sesuatu yang terlalu muluk, terlalu ngimpi dan di awang-awang? 


Mungkin Ya. Tapi, harus dimaklumi bahwa segala sesuatu itu berawal dari mimpi, keinginan, harapan dan sejenisnya.


Memang harus diakui, saat ini DepokDigital baru sebatas 'simbol', 'slogan' dan belum menunjukkan bentuk nyata. Bahkan, sekadar 'peta jalan' ke mana kami mau bergerak saja belum selesai dibuat. 


Namun kami percaya, angan-angan ini bukan sekadar angin-anginan belaka. Dan DepokDigital bisa terwujud, tentunya kalau kita melakukannya bersama-sama.


Oleh karena itu, sejak awal DepokDigital berusaha untuk menjadi inklusif. Jangan identikkan kami dengan komunitas apapun, apalagi sub-kelompok tertentu dari sebuah komunitas. Kami adalah sekumpulan orang yang punya mimpi yang sama, yang ingin melakukan apapun yang bisa kami lakukan untuk mewujudkannya.


Semoga, seiring waktu, impian itu tetap terjaga dan perlahan-lahan terwujud jadi nyata. 


4 Kriteria Kota Digital 

Barusan baca di detikinet.com, ada empat kriteria Kota Digital berdasarkan versi International Telecommunication Union (ITU). (Baca: http://www.detikinet.com/read/2011/10/27/082513/1753567/328/4-kriteria-kota-digital )


Empat hal ini, kalau mau disarikan, adalah: 
  • Broadband Connectivity
  • Digital Inclusion
  • Innovation
  • Knowledge Worker
Dari poin pertama, apa yang bisa dilakukan DepokDigital sejauh ini mungkin baru sebatas mengajak. Kami bukan pemiliki infrastruktur, sehingga perlu mengajak para ISP dan Operator untuk menguatkan jaringannya di sini.


Namun sekadar mengajak kan rasanya terlalu naif. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah menjalankan kampanye, mencoba meyakinkan ISP dan Operator bahwa Depok layak dialirkan Broadband. 



Poin-poin berikutnya lah yang akan kami galang melalui berbagai kegiatan. Sosialisasi manfaat digital kepada semua kalangan perlu dilakukan, meskipun pada awalnya tak mungkin bisa langsung menjangkau semuanya. 


Setelah wawasannya terbentuk, dan dengan kerjasama ke berbagai institusi terkait, diharapkan akan lahir Inovasi dari warga Depok yang bisa bermanfaat bagi orang di sekitarnya dan juga dunia. 


Depok Digital, pada akhirnya, bukanlah angan-angan belaka. Ini akan menjadi nyata, tinggal masalahnya, apakah warga Depok hanya menerimanya sebagai sesuatu yang asing atau justru bisa berperan aktif di dalamnya?